RESUME MAPEL AKIDAH AKHLAK : IMAN KEPADA HARI AKHIR


IMAN KEPADA HARI AKHIR
1.        Pengertian Iman Kepada Hari Akhir
Salah satu dari rkun iman yang enam yaitu iman kepada hari akhirdan merupakan aspek akidah yang terkait dengan iman kepada yang ghaib. Yang dimaksud dengan hari akhir adalah Hari Kiamat, hari dimana manusia dbangkitkan dari kuburnya untuk dilakukan perhitungan amalnya.

Oleh karena itu, iman kepada Hari Akhir ini setidaknya meliputi tiga aspek, yaitu Al-Ba’tsu (dibangkitkan dari kubur) Al-Hisab wal Jaza’ (perhitungan amal dan balasannya) dan Al-Jannah wa an-Nar (Surga dan neraka). Hari Akhir juga disebut sebagai hari kiamat atau Yaumul Ba’ats(hari kebangkitan), disebut juga Yaumul Mizan (hari pertimbangan amal) atau juga disebut dengan Yaumul Jaza’ (hari pembalasan).   
Ada dua hal yang berkaitan dengan keimanan, yakni iman terhadap ke-Esa-an Allah serta pembuktian terhadap hari akhir. Iman kepada Allah menuntut amal perbuatan yang motivasinya didasarkan pada keyakina akan adanya hari akhir.
2.        Percaya Kepada Hari Akhir Merupakan Prinsip Agama.
Hanya dengan beragama kekacauan fikiran dapat terselesaikan. Bagaimanapun panjangnya pencaharian yang dilakukan oleh filsafat pada akhirnya menem,ui batas akhir. Sebab, wilayah filsafat hanya sebatas pemikiran, sedangkan wilayah agama terletak pada Iradat (kemaun) dan rasa (geveol) dan hidup adalah gabungan dari ketiganya. (Hamka, 1978).
Dalam agama samawi, jika seseorang telah menerima sepenuh hati tenang Tuhan Yang Maha Pengatur alam, maka dengan sendirinya ia akan percaya adanya orang yang diberi wahyu, yaitu Nabi dan Rasul, sementara seluruh Nabi dan Rasul meneyerukan adanya kehidupan setelah kehidupan saat ini. Percaya kepada hari akhir merupakan inti dari ajaran agama, karena tidak percaya kepada hari akhir berarti ia teleh menciderai system kepercayaan agama itu sendiri (Hamka, 1978; Ahmed, 1994).
Iman kepada hari akhir meliputi makna bahwa suatu saat nanti Allah menciptakan masa yang disebut kiamat seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an Surat At-Takwir ayat 1-7 :
(1) Apabila matahari digulung (2) dan apabila bintang-bintang berjatuhan (3) da apabila gunung-gunung dihancurkan (4) dan apabila unta nta bunting ditinggalkan (5) dan apabila binatang-binatang buas dikumpulkan (6) dan apabila lautan dijadikan meluap-lujap (7) dan apabila ruh-ruh dipersatukan
Menurut Jamaludin, kehancuran total akan dimuali dari berkontraksinya alam semesta sehingga matahari mulai digulung, alam semesta mulai mengerut sehngga galaksi saling bersentuhan dan tubrukan hingg akhirnya kembali menjadi sau kesatuan seperti titik awal penciptaannyan yang dalam dunia sains dikenal dengan sebutan Ikram atau keruntuhan besar sebagai kebaklikan dari big bang yaitu ledakan besar yang menjadi awal terciptanya alam semesta.
Diantara manusia yang ingkar dengan hari akhir mencoba menyanggah kebenaran adanya hari akhir sebagaimana yang tertera dalam surat Yasin ayat 78-83 :
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ  ۖ  قَالَ مَنْ يُحْيِى الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ ۝ قُلْ يُحْيِيْـهَا الَّذِى أَنْشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٍ  ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۝ الَّذِى جَعَلَ لَـكُمْ مِنَ الشَّجَرِ اْلأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوْقِدُوْنَ ۝ أَوَلَيْسَ الَّذِىْ خَلَقَ السَّمٰوٰاتِ وَاْلأَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰى أَنْ يَخْلُقَ مِثْـلَهُمْ  ۖ بَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ ۝ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَـكُوْنُ ۝ فَسُبْحَانَ الَّذِى بِيَدِهِ مَلَــكُوْتُ كُلِّ شَيْئٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ۝  
 Artinya : (78) dan ia membuat perumpamaan bagi kami, dan ia lupa kepada kejadiannya, ia berkata “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah yancur luluh?” (79) Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakan kali pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segakla makhluk.” (80) yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hujau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. (81) Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (82) Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “Jadilah!” maka terjadilah dia. (83) Maka Maha Suci (Allah) yang ditangan-Nya kekuasaan atas sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.   
Melalui ayat-ayat diatas dapat disimpulkan bahwa Iman kepada hari Akhir menjadi pembeda antara orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman. Aspek keimanan dalam lingkup Iman kepada Hari Akhir adalah Al-Ba’tsukebangkitan manusia dari kematiannya. Yang kedua adalah Al-Hisab dan Jaza’ yaitu hari perhitngan amal perbuatan manusia serta balasan atas perbuatan baik dan buruk mereka. yang ketiga adalah Surga dan Nerakasebagai tempat kembali bagi makluk. surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang mukmin yang bertaqwa serta senantiasa taat kepada Allah dan rasul-Nya. sedangkan neraka adalah tempat yang penuh dengan siksaan yang dijanjikan dan disediakan oleh Allah bagi orang-orang kafir yang mengingkari Alah dan menentang Rasul-Nya.

Ada beberapa hal yang terkait dengan nama-nama hari akhir yaitu iman dengan sesuatu yang terjadi setelah kematian, diantaranya adalah :
1.     Fitnatul Qobri, atau fitnah kubur, yaitu pertanyaan kepada mayit setelah dikuburkan  tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya. Maka, bagi orang-orang yang beriman akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sementara orzang-orang dholim dan orang-orang kafir tidak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
2      Siksa dan nikmat kubur. Siksa kubur akan diberikan kepada orang-orang zalim dan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Sedangkan nikmat kubur akan diberikan kepada orang-orang mukmin.
Maka sesungguhnya iman kepada hari akhir ini meliputi iman terhadap segala hal yang akan terjadi setelah manusia meninggal, bahwa akan ada kehidupan setelah kematian dan ada urut-urutan kejadian di dalamnya, urutannya dimulai dari kematiann manusia.
1.   Mati. Kematian adalah fase pemisah antara kehidupan dunia dan akhirat. kematian adalah suatu yang pasti dan tidak bisa dihindari.
2.     Kubur. Setelah manusia meninggal dunia ia akan ditanyai oleh malaikat penjaga kubur yaitu malaikat Munkar dan Nakir. Di dalam kubur ada nikmat kubur dan siksa kubur.
3.     Al-Ba’tsu wal Hasyru yaitu dibangkiktkannya atau di hidupkan kembali dari kubur lalu dikumpulkan di padang Mahsyar dalam keadaan seperti dilahirkan tanpa alas kaki.
4.     Al-Hisabyaitu berlakunya perhitungan amal perbuatan manusia selama hidup di dunia serta diserahkannya buku catatan amal perbuatan masing-masing. Kemduian mereka akan ditimbang perbuatanya mana yang lebih berat pahala atau dosanya (Mizan). Kemudian diberikan balasan sesuai dengan perbuatannya. Jika amalnya sholeh maka akan dibalas surga, dan jika amalnya buruk maka akan dilemarkan ke neraka. Disinilah Syafaat atau pertolongan salah sau syafaat yang palin agung adalah syafaat Rasuullah Muhammad SAW. 
5.     Shirathadalah jembaan/jalan yang membentang di atas neraka menuju surga. Namun, tidak seua manusia dapat melewaitnya, hanya orang-orang ahli surga saja yang dapat melewatinya.
6.   Surga dan Neraka. Bagi yang muslim, mukmin, berman dan beramal sholeh yang pahala amalnya lebih banyak maka surgalah tempatnya. Dan sebaliknya, bagi orang kafir dan banya dosa maka terakalah tempatnya.            
3.        Hikmah Iman Kepada hari Akhir
Dengan iman kepada hari Akhir kita akan mendapatkan hikmah besar, diantaranya adala :
1.   Cinta didalam melakukan ketaatan serta senantiasa menjaga perilaku taat dengan mengharap pahala untuk bekal di akhirat.
2.  Takut untuk melakukan perbuatan maksiat serta ridlo meninggalkan perbuatan tersebut karena takut akan siksa Allah.
3.    Sebagai hiburan bagi orang mukmin atasa apa yang telah dilewatkannya didunia bahwasannya kelak di akhirat dia akan mendapatkan nikmat yang banyak.     
4.        Bantahan Bagi Orang Yang Meragukan Kebangkitan Di Hari Akhir.
Diantara bseian banyak manusia ada yang mengingkari kebenaran hati akhir. Al-Qur’an menyebutkan bantahan mererka itu dalam Surat Al-Isro’ ayat 49-52 :
وَقَالُوْا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَـمَبْعُوْثُوْنَ خَلْقًا جَدِيْدًا ۝ قُلْ كُوْنُوْا حِجَارَةً أَوْ حَدِيْدًا ۝ أَوْ خَلْقًا مِمَّا تَــكْبُرُ فِى صُدُوْرِكُمْ ۚ فَسَيَقُوْلُوْنَ مَنْ يُعِيْدُنَا ۖ قُلِ الَّذِىْ فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُوْنَ إِلَيْكَ رُءُوْسَهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هُوَ ۖ قُلْ عَسٰى أَنْ يَكُوْنَ قرِيْبًا ۝ يَوْمَ يَدْعُوْنَ فَتَسْتَجِيْبُوْنَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّوْنَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيْلًا ۝
Artinya : Dan mereka berkata : “Apakah bila kami menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepada kamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” katakanlah: “Mudah-mudahan waktu bangkit itu dekat”, yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja. (Al-Isra’ : 49-52)
Adapun bantahan secara indrawi bagi orang yang mendustakan kehidupan setelah kematian seperti yang ada pada ayat berikut :
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوْسٰى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرٰى اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْـكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ۝ ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّــــكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝
Artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah :55- 56)   
Atau kisah Nabi Ibrahim yang ingin mengetahui bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati.
وَإِذْ قَاَل إبْرَاهِيْمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْيِى الْـمَوْتٰى ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَال بَلٰى وَلٰـكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى جَبَلٍ مِنْـهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُوْهُنَّ يَأْتِـيْـنَكَ سَعْيًا ۖ وَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ۝  
 Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “YA Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkanlah diatas tiap-tiap satu bukit satu dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan katakanlah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah : 260)
Sedangkan dalil rasionalnya, pertama Allah menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada didalamnya diciptakan tanpa permulaan, maka yang Maha Kuasa mampu untuk mengulanginya atau mengembalikannya. Yang kedua, bahwasannya bumi itu bisa menjadi mati (kering kerontang) kemudian Allah menurunkan hujan maka kemudian tumbuhlah tumbuh-tumbuhan hijau. Maka Allah yang Maha Kuasa mampu untuk menghidupkan bumi dan mampu pula menghidupkan yang mati.    

0 Response to "RESUME MAPEL AKIDAH AKHLAK : IMAN KEPADA HARI AKHIR"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel